Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Biak Numfor turut serta menjadi narasumber dalam kegiatan Rapat Dengar Pendapat (RDP) tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak dalam rangka masa reses IV di Kabupaten Biak Numfor yang di gelar oleh Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua, di Kampung Anggaduber Distrik Oridek Biak, Senin (16/12/2019).

Kegiatan ini mengusung tema besar “Penyelamatan Manusia dan Tanah Papua” yang dihadiri oleh masyarakat setempat, perwakilan Polres Biak Numfor, Kepala Distrik Oridek serta anggota MRP Provinsi Papua Pokja Perempuan.

Plt Kepala Dinas DP3AKB Biak Numfor Laourens Pattipeilohy mengatakan bahwa MRP khususnya Pokja perempuan merupakan mitra yang tidak bisa lepas dengan DP3AKB dalam kegiatan ini yakni bagaimana bisa memberdayakan perempuan Papua khususnya di Biak Numfor.

“Tema dari MRP ini yaitu penyelamatan manusia di tanah Papua. Oleh sebab itu, materi yang diberikan berhubungan dengan menyelamatkan orang Papua serta meningkatkan kesejahteraan mereka itu sendiri”, Ujar Lourens.

Dirinya menjelaskan bahwa dengan adanya rapat dengar pendapat ini, masyarakat dapat menyampaikan masalah yang telah terjadi kepada narasumber seperti terjadi kematian karena miras, KDRT, kekerasan terhadap anak dan lain sebagainya, kemudian bersama-sama mencari solusi untuk memutus mata rantai masalah-masalah ini.

“Untuk menindaklanjuti kegiatan ini, kedepan, kami bersama stakeholder terkait akan membuat tim untuk turun langsung sampai ke kampung-kampung terpencil, sekalipun untuk berupaya memutus mata rantai permasalahan-permasalahan seperti itu”, Katanya.

Menurut Lourens, semua permasalahan yang terjadi di masyarakat Papua ini menjadi tanggungjawab bersama, baik Pemerintah, tokoh masyarakat dan tokoh agama serta TNI/POLRI yang ada untuk bersama bergandeng tangan mengatasi segala permasalahan yang terjadi di masyarakat.

Sementara itu, Anggota MRP Pokja Perempuan Yuliana Wambrauw menjelaskan tema besar kegiatan ini yaitu penyelamatan manusia dan tanah Papua dan rapat dengar pendapat dengan 237 suku di 7 wilayah adat ini bisa terjadi dari hasil dengar pendapat dengan semua Dewan Adat masyarakat adat melalui kepala suku.

“Tema ini lahir karena kepedulian, tema ini tema Sentral, tidak hanya pada kekerasan secara umum tetapi kekerasan pada bidang pendidikan, ekonomi maupun kesehatan bagi seluruh orang asli Papua”, Katanya.

Yuliana juga menambahkan, tulang punggung orang Papua untuk bertahan ada di Gereja. Ia berharap tokoh agama maupun jemaat harus kuat dan bekerjasama dalam mendidik dan berupaya menyelamatkan keberadaan orang Papua dan tanah Papua.

“Kedepan kita kan membuat tim untuk bekerja sampai ke pelosok-pelosok Kabupaten Biak Numfor untuk memberantas segala kekerasan yang ada di masyarakat. Saya harap kerjasama seluruh masyarakat bersama tokoh agama maupun tokoh masyarakat untuk kita sama-sama berupaya menyelamatkan masyarakat dan tanah Papua”, Jelas Yuliana. (FS/Dom)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *