Menyikapi berbagai persoalan terkait rasisme dan diskriminasi yang terjadi di beberapa daerah di Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bupati Biak Numfor Herry Ario Naap, S.Si. M.Pd mengajak seluruh komponen masyarakat, pimpinan TNI/POLRI, tokoh adat, tokoh masyarakat serta tokoh agama untuk mewujudnyatakan toleransi di tengah masyarakat.

Hal ini disampaikan Bupati dalam acara deklarasi kesepakatan bersama untuk tetap menjaga persatuan dan keamanan di Kabupaten Biak Numfor Papua bersama para tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, beserta Forkopimda dan seluruh unsur TNI/POLRI di kantor Polres Biak Numfor, Senin (9/9).

Menurutnya, acara deklarasi hari ini yang dilakukan jangan hanya seremonial, tetapi harus ditidaklanjuti atau diaplikasikan ke masyarakat sehingga ada manfaatnya. Dikatakan, seluruh masyarakat jangan mudah terprovokasi dengan informasi yang tidak jelas kebenarannya alias Hoax. Saling menghargai dan menghormati merupakan kunci utama mempertahankan kebhinekaan walau berbeda wajib dilakukan.

Bukan hanya itu, beberapa hal penting pun dilontarkan bagi tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama dan juga pimpinan TNI/POLRI antara lain tidak ada lagi rasisme di NKRI, masyarakat Biak Numfor menolak dan mengutuk rasisme yang masih terjadi di NKRI, meminta supaya oknum-oknum atau ormas-ormas yang melakukan rasisme agar diberikan hukum yang seadil-adilnya, kepada pimpinan ormas di Biak Numfor harus memberikan pemahaman bagaimana menghargai masyarakat Papua sehingga masyarakat Papua tidak merasa didiskriminasi ditanahnya sendiri, ormas-ormas di Papua harus memberdayakan masyarakat Papua.

Kepada TNI/POLRI selaku pihak keamanan, Bupati Naap berharap dalam menghadapi permasalahan yang terjadi di Papua, pendekatan persuasif harus dilakukan.

“Pendekatan untuk melaksanakan pengamanan memang penting tetapi jangan terlalu nampak dan berlebihan sehingga masyarakat ketakutan, seakan-akan Papua dalam keadaan darurat. Hal ini dapat menimbulkan ketidaknyaman bagi rakyat Papua. Masyarakat Papua adalah masyarakat berbudaya dan religius, maka pendekatan untuk menciptakan suasana aman dan kondusif di tanah Papua harus pendekatan kebudayaan, pendekatan adat dan juga pendekatan keagamaan”, harapnya.

Sementara itu, Kapolres Biak Numfor AKBP Mada Indra Laksanta, SIK.,M.Si dalam sambutannya mengatakan rasisme adalah musuh utama bagi tumbuhnya kekuatan suatu bangsa.

“Keamanan adalah dasar terlaksananya pembangunan. Apabila mendengar dan menerima informasi yang berkaitan dengan ujaran kebencian ataupun berita bohong, silahkan menghubungi Polres Biak Numfor untuk ditindaklanjuti. Oknum-oknum yang terlibat dalam aksi rasisme di beberapa daerah di NKRI telah di proses hukum tanpa pandang bulu sesuai undang-undang”, Jelasnya. (Dom)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *